Sebuah Cerita di Terminal Bulupitu

0
16

Apa hal pertama yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “terminal”? Ramai, banyak angkutan, pedagang kaki lima, kumuh, kotor, preman, tindakan kriminal? Kurang lebih begitulah gambaran terminal di negara tercinta kita ini. Terminal menjadi saksi bahagia seseorang berjumpa kembali dan kesedihan karena harus berpisah. Lebih dari sekedar tempat untuk naik bus.

Ketika mengunjungi terminal Bulupitu Purwokerto, anggapan tentang terminal yang se-menyeramkan itu hilang sudah. Bagaimana tidak ? pertama kita masuk ke Terminal, kita langsung diteduhi oleh pohon-pohon besar yang rindang. Ada taman dilengkapi area bermain dan tempat duduk yang nyaman. Lingkungannya yang bersih dan jauh dari kata kumuh atau pandangan orang tentang terminal. Pedagang kaki lima tertata rapih di kios-kios. Lebih mirip tempat untuk bersantai daripada terminal. Suasananya sayu, damai, rindang, menambah rasa drama pertemuan serta perpisahan di terminal.

Tentunya terminal punya kenangan sendiri bagi mereka yang mengharapkan pertemuan dan membenci perpisahan. Bukan hanya sekedar tempat lalu lalang bus. Mengunjungi kekasih satu bulan sekali di tanggal muda, mengunjungi anak dan istri setelah tiga kali lebaran, membawa oleh-oleh, uang, hasil kerja keras dan cerita betapa kerasnya hidup di ibu kota.

Pagi itu masih terlalu pagi, matahari belum bangun, masih terlelap diselimuti awan hitam. Dimas bergegas melaju dengan sepeda motornya menuju terminal. Perasaan suka cita mengalahkan udara dingin dini hari di purwokerto. Hampir 6 purnama mereka tidak berjumpa. Dan sekarang dengan membawa setumpuk rindu Dimas akan melepas semua beban rindu yang selama ini ia rasa. “Rindu itu berat, bukan untuk orang cemen, aku gak cemen” celetuk dimas sambil mengenang  kenangan dulu.

Dua pasang kekasih Dimas dan Seli, 4 tahun mereka bersama. Tapi di tahun ke 4 mereka memulai tantangan baru,  hubungan jarak jauh. Dimas  melanjutkan pendidikan di purwokerto, sedangkan Seli memilih merajut asanya di kota kelahirannya, Bandung . Berat memang, tapi mereka harus berjuang, ada yang harus dikorbankan ketika kita ingin mencapai sesuatu yang hebat. Dan mereka memilih mengorbankan waktu bersama mereka tapi tidak dengan perasaan mereka. Mereka tidak menyerah.

Tepat pukul 05.00 WIB motor bebek dimas parkir di terminal Bulupitu. Masih gelap, tapi tidak sepi, ada bus yang berlalu lalang. Dimas tidak sendiri, ada seorang bapak yang sepertinya juga sedang menanti seseorang. Tampilannya terlihat biasa,  terlampau sederhana, akan tetapi ada yang lain dan tak bisa diungkapkan dengan kata. Aura ketulusan, kesabaran, perjuangan terlihat jelas, kuat sekali, membuat penampilan yang sederhana itu menjadi seakan akan tidak  biasa. Sama seperti Dimas, dia tidak sempat untuk ke kamar mandi, bangun tidur hanya membasuh muka dia langsung melaju bersama sepeda motornya.

Waktu terus berlalu, Dimas masih duduk diam di terminal, harap-harap cemas dia selalu memperhatikan bus yang datang. Sudah beberapa kali ada bus yang datang, tapi yang dinanti belum jua muncul. secangkir kopi sudah dia habiskan, semangatnya masih sama seperti pagi tadi dia baru datang diterminal. 05.45 WIB Hp Dimas menyala, ada pesan masuk “Sebentar lagi sampai”. Sontak jantung Dimas berdegup kencang , seperti mau meledak.

Dimas bersiap. Ada bus yang datang, Dimas langsung berdiri. Sayup sayup dari gerombolan orang yang turun dari bus, seseorang memakai baju putih menggendong ransel dan tas tentengan, rambutnya yang bergelombang dibiarkan teurai, warna lipstik yang mulai pudar karena semalaman di bus, turun dari bus. Dengan mudah dimas langsung menemukan “dia” diantara gerombolan orang yang lain. Degup jantungan semakin kencang, tangannya bergetar. Bukan kali pertama, akan tetapi perasaan ini selalu sama saat mereka akan berjumpa. Setelah perjuangan yang mereka lalui. Rindu yang mereka simpan sendiri. Rindu yang mereka salurkan lewat doa. Pagi ini terbayar lunas, tuntas. Mereka Berjumpa.

Mereka mengobati rindu yang selama ini mereka rasakan. Membuat cerita, kenangan baru sebagai bekal untuk mereka berjuang kembali. Berjuang untuk masa depan mereka. Melindas jarak diantara mereka, menerjang setiap rintangan mulai dari yang remeh temeh sampai yang maha dahsyat. Semua butuh pengorbanan dan ini pengorbanan kita, perjuangan kita berdua. Agar kelak kita tetap bersama, setiap hari, seumur hidup.

Terminal punya cerita. Bukan sekadar terminal, akan tetapi tempat dimulainya perjuangan mereka yang mencoba peruntungan di kota orang. Tempat baru, penuh harapan , bagi para pelancong. Tempat mencari penghidupan bagi mereka yang tumpuan hidupnya berasal dari teminal. Tempat menghibur diri, menghabiskan waktu, bagi mereka yang lebih suka datang ke terminal hanya untuk duduk ditaman. Terminal, banyak ceita tumpah ruah, haru biru, sedih kecewa, suka cita. Perjuangan dimuali dari terminal, mereka yang menahan rindu, berjuang untuk keluarga. Dan dimas, berjuang untuk masa depannya. (Dyah Isti)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here